Pagi itu, di dalam kelas Ibu guru Leni terkejut oleh pertanyaan siswanya. " Bu, siapakah yang lebih pintar, Einstein atau Mike Tyson ?" . Pertanyaan itu langsung membuat sang guru kaget dan marah. Dengan suara lantang ia menjawab pertanyaan muridnya tersebut. " Mana mungkin Tyson yang kerjanya memukul orang dibandingkan dengan Einstein yang menemukan hukum relativitas."
Si siswa penanya-yang kebetulan atlet basket yang telah mengharumkan nama sekolahnya- tidak cuma merasa kecewa, tapi juga merasa sia-sia dengan bakatnya. Dia tidak pernah dianggap siswa cerdas dan pantas memperoleh penghargaan dari sekolah.
Kasus tersebut banyak kita jumpai dan membuat kita bertanya tentang arti kecerdasan. Apakah yang cerdas mereka yang pintar dalam studi, yang memiliki IPK lebih dari 3,0 dan yang memiliki IQ lebih dari 100? Fakta membuktikan bahwa sebagian siswa yang nilai rapornya bagus kemudian banyak yang menganggur. Sementara yang memiliki bakat yang "cerdas" banyak diterima di beberapa bank sebagai pegawai tetap. Lebih hebat lagi mereka jauh lebih sukses dibandingkan teman-temannya yang pintar dibidang studi.
Bagi orang awam, kasus itu biasa-biasa saja. Namun bagi pengamat pendidikan, kasus diatas merupakan sesuatu yang luar biasa. Disebut luar biasa karena ternyata kepintaran dibidang studi belum tentu menjadi orang yang sukses di masyarakat.
Lalu, apa yang salah dengan itu semua? Menurut saya, ada yang salah dengan paradigma kita dalam pendidikan. Kecerdasan hanya diartikan dengan nilai 9 yang berserakan di rapor siswa. Hanya diukur dengan IPK tinggi belaka. Kini mungkin sudah saatnya para pendidik di negeri ini memulai terobosan dalam memilah potensi kecerdasan yang dimiliki otak kita.
Menurut Prof. Sidiarto Kusumoputro, ahli saraf UI, otak mempunyai potensi KISS ME (Kreatifitas, Imajinasi, Sosialisasi, Spiritual, Musik( kalau menurut saya sense of art), dan Emosi). Oleh karena itu dia menyarankan pendidikan yang mengandung unsur2 tersebut. Dengan demikian bisa membuat berbagai kecerdasan otak manusia lebih optimal.
Menggembirakan sekali bahwa hal itu semua bertumpu pada kekuatan otak kita. Karena hal tersebut membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukan pada bagian luar tubuh manusia. Kekuatan ada pada diri manusia. Problemnya , banyak pendidik kurang mengenal potensi siswanya. Mereka hanya meracuni kemampuan otak siswa dengan intelektualitas belaka. "Gnothi Teauton," kata Socrates. " Kenalilah dirimu!".
Oleh karena itu semua , maka sudah sewajarnya paradigma pendidikan yang hanya menilai kecerdasan siswa dari kemampuan studi seperti Matematika (saya sangat benci sekali dengan matematika dan kroni-kroninya). Sudah saatnya para pendidik, membimbing siswa untuk mengenali diri mereka dan potensi "kecerdasan" yang mereka miliki....
Referensi: Taufiq Pasiak, revolusi IQ / EQ / SQ , Antara Neurosains dan Al-qur'an