Jenis instalasi penangkal petir yang lebih cocok untuk rumah tinggal
adalah jenis instalasi penangkal petir konvensional, yakni rangkaian jalur instalasi penyalur petir yang bersifat pasif menerima sambaran petir. PENANGKAL PETIR RUMAH
Manusia selalu mencoba untuk menjinakkan keganasan alam, salah
satunya adalah bahaya sambaran petir. Ada beberapa metode untuk melindungi bangunan
dan lingkungan dari sambaran petir. Metode yang paling sederhana tapi sangat
efektif adalah metode Sangkar
Faraday. Yaitu dengan
melindungi area yang hendak diamankan dengan melingkupinya memakai konduktor yang dihubungkan dengan pembumian.
Pemasangan penangkal petir untuk rumah adalah memberikan saluran elektris dari atas bangunan
ke tanah dengan tujuan bila ada sambaran petir yang mengenai atas bangunan maka arus petir bisa mengalir ke ground dengan baik.
Standart kabel yg di gunakan adalah minimal 50 mm” (SNI), untuk
memilih kabel di bawah 50 mm” tidak di sarankan walau kenyataan di lapangan
banyak di gunakan.
Langkah pertama yang harus di lakukan adalah memilih jalur
penurunan kabel, ada 2 hal penting dalam pemilihan jalur kabel ini. Pertama
jalur terpendek dengan pertimbangan lebih hemat dan Tahanan kabel kecil, Kedua
Sesedikit mungkin belokan/tekukan agar tidak terjadi loncatan keluar jalur
kabel (Site Flasing)
Pekerjaan pemasangan dimulai dari bawah / ground
Ada 2 System yang di
gunakan :
Penangkal Petir Sangkar Faraday adalah rangkaian jalur elektris
dari bagian atas bangunan menuju tanah/grounding dengan beberapa jalur penurunan kabel, sehingga menghasilkan jalur konduktor
berbentuk sangkar yang melindungi bangunan dari sambaran petir.
Pemanfaatan struktur
logam sebuah bangunan bisa dimanfaatkan, misalnya :
- Rangka baja
(H-Beam/I-WF)
- Pertulangan Beton
- Frame Alumunium
Pemanfaatan struktur logam tersebut bisa dilakukan dengan catatan
harus mengarah ke bawah/tanah di hubungkan dengan unit grounding
system.
Penangkal Petir Franklin Rod adalah rangkaian jalur elektris
dari atas bangunan menuju sisi bawah/tanah dengan jalur kabel tunggal, dengan cara memasang alat berupa
batang tembaga dengan daerah perlindungan berupa kerucut imajiner dengan sudut
puncak 112 derajat. Agar daerah perlindungan luar maka Franklin Rod di pasang
pada bangunan teratas (tinggi 1 - 3 Meter). Makin jauh dari Franklin Rod maka
perlindungan akan semakin lemah pada areal tersebut.
Dari kedua system
instalasi penangkal petir konvensional tersebut tentunya sangat di
pertimbangkan mengenai standart keamanan, kualitas instalasi, biaya dan
estetika menjadi titik tolak utama bagi kita untuk memilih, memakai system
pengamanan sambaran petir manakah yang sesuai untuk bangunan kita.
Pada perencanaan sistem terminasi udara (Splitzer)
pada instalasi penangkal petir konvensional ada 3 metode yang digunakan untuk menentukan
penempatan terminasi udara sekaligus untuk mengetahui daerah proteksi. Metoda
tersebut adalah :
1.
Metoda
Jala (Mesh Size Metode)
Metoda ini digunakan untuk keperluan perlindungan permukaan yang
datar karena bisa melindungi sebuah permukaan bangunan. Daerah yang akan
diproteksi adalah keseluruhan daerah yang ada didalam jala tersebut. Permukaan
disamping pada struktur yang tingginya lebih dari radius bola bergulir, yang
sesuai dengan tingkat proteksi yang dipilih harus dilengkapi sistem terminasi
udara. Pada umumnya digunakan ketentuan bahwa ukuran jala (Mesh) adalah 5
sampai 20 meter. Penghantar terminasi udara harus dipasang khususnya pada tepi
atap, garis bubungan atap atau pada menara di atap. Penghantar terminasi udara
instalasi penangkal petir konvensional harus menggunakan lintasan sependek mungkin dan
langsung menuju ke grounding
sistem supaya induktansinya
dapat sekecil mungkin. Tinggi setiap splitzer yang digunakan antara 2-3 meter.
Atap bangunan dengan lembaran logam yang dilapisi pelindung atau
atap bangunan berupa lembaran logam dengan lapisan tipis isolasi untuk isolasi
thermal harus diberi terminasi udara seperti jika atap tidak terbuat dari
logam. Atap bangunan yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar harus
dilindungi dari pengaruh bahaya pemanasan yang disebabkan arus petir yang mengalir melalui penghantar terminasi
udara.
Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemanasan tersebut
diantaranya :
- Mengurangi temperatur
konduktor dengan cara memperbesar luas penampang konduktor
- Menambah jarak antara konduktor dengan konduktor lainnya yang dilindungi
- Menyelipkan lapisan pelindung panas antara konduktor dengan material atap yang mudah terbakar
- Menambah jarak antara konduktor dengan konduktor lainnya yang dilindungi
- Menyelipkan lapisan pelindung panas antara konduktor dengan material atap yang mudah terbakar
2. Metoda Sudut Proteksi (Protective Angle Metode)
Metode sudut proteksi tidak dugunakan untuk perlindungan
struktur yang lebih tinggi dari radius bola bergulir, karena secara geometris
akan ada bagian dari struktur yang tidak terlindungi terhadap ancaman bahaya
sambaran petir.
3. Metoda Bola Bergulir (Rolling Sphere Metode)
Metoda bola bergulir sangat baik digunakan pada bangunan yang
bentuknya rumit. Dengan metoda ini seolah-olah ada suatu bola dengan radius (R) yang bergulir diatas tanah, sekeliling
struktur dan diatas struktur kesegala arah hingga bertemu dengan tanah atau
struktur bangunan yang berhubungan dengan permukaan bumi yang mampu bekerja
sebagai penghantar. Titik sentuh bola bergulir pada struktur adalah titik yang
dapat di sambar petir dan pada titik tersebut harus diproteksi oleh
konduktor terminasi udara.
Radius
proteksi instalasi penangkal petir konvensional berbeda dengan radius
proteksi penangkal petir elektrostatis, hal ini di sebabkan karena instalasi penangkal petir konvensional bersifat pasif. Secara teori radius
penangkal petir konvensional antara 2
Meter sampai 4 Meter atau 45 derajat dengan ketinggian splitzer 1 Meter. Maka
dari itu jika luas struktur bangunan atau areal yang akan di lindungi sangat
luas lebih praktis dan ekonomis dipasang penangkal petir elektrostatis. Terminal petir elektrostatis dengan merk Flash Vectron memiliki radius
proteksi 157 Meter.
Radius
perlindungan tidak hanya berdasarkan kapasitas
rata-rata yang tercantum dalam tabel. Radius
perlindungan sebuah terminal unit penangkal petir
elektrostatis juga sangat tergantung pada posisi penempatannya dari atas
bangunan, semakin tinggi letak posisi terminal petir
maka akan menghasilkan jarak perlindungan yang semakin besar. Selain itu ada
teori penunjang lain yang menyebutkan bahwasannya intensitas petir (curah
petir tahunan) di sebuah wilayah juga dapat mempengaruhi radius proteksi
terminal unit penangkal petir. Bila sebuah wilayah memiliki intensitas sambaran petir
yang sangat tinggi misalnya di daerah pegunungan atau daerah berbukit maka
standart kinerja radius
proteksi terminal unit penangkal petir
harus di nilai 80% dari kinerja optimal, karena akan ada waktu singkat (jeda
pendek) untuk mengisi ulang kapasitor.
Didalam teori atau
dalam buku tentang penangkal petir ESE (Early Streamer Emission Lightning Conduktor)
terminal diatur dalam standart NFC 17-102 (dari Perancis) dan UNE 21-186 (dari
Spanyol). Sampai saat ini hanya 2 negara ini di dunia yang mengadopsi ESE
kedalam standart acuan proteksi penangkal petir.
Luas radius proteksi
penangkal petir ditentukan oleh rumusan perhitungan resiko, yaitu dengan
memperhatikan faktor resiko sebagaimana dibawah ini :
1. Berapa jumlah hari
guruh dilokasi bangunan berada.2. Bahaya dari bangunan, apakah struktur bangunan tersebut terbuat dari kayu, besi atau beton.
3. Adanya bahan yang mudah terbakar di dalam bangunan tersebut.
4. Bahaya terhadap keselamatan manusia.
5. Berapa tinggi terminal petir terhadap permukaan atau atap bangunan yang akan di proteksi. Maka dari itu Terminal Petir Elektrostatis yang berasal dari luar negeri (Import) jika di pasang di Indonesia sebetulnya secara teori dalam menentukan radius perlindungan petir sudah tidak sesuai lagi dengan radius perlindungan jika Terminal Petir tersebut di pasang di negara lain, sebab variable dalam rumus radius proteksi petir sudah berbeda dengan negara kita. Penangkal Petir Flash Vectron merupakan penangkal petir elektrostatis yang di desain khusus untuk di pasang di Indonesia karena teknologinya telah di sesuaikan dengan parameter yang ada di daerah tropis.
Konsep Elektrogeometri dikenal sebagai bola gelinding petir yang bertujuan untuk menentukan sudut
lindung atau radius proteksi penangkal petir dari sistem proteksi eksternal yang
biasanya diterapkan pada instalasi penangkal petir konvensional karena teori ini pada umumnya dipakai
untuk konstruksi tower. Untuk menentukan radius proteksi penangkal petir konvensional dapat dihitung dengan
menggunakan rumus empiris dari Hasse dan Wiesinger.
Contoh standart yang
berlaku untuk sistem radius penangkal petir adalah :
1. Indonesia SNI
03-7015-2004
2. Inggris BS EN 62305
3. Amerika NFPA 780UL 96
4. Perancis NFC 17-102
5. Spanyol UNE 21186
6. Jerman DIN VDE 0800 dan
DIN VDE 0845
7. Internasional IEC 62305
(Diakui hampir semua negara)
Pada setiap tabel
radius proteksi yang tercantum di dalam brosur, biasanya mencantumkan radius
proteksi standart dan radius proteksi resiko tinggi. Bahkan ada juga yang
mencantumkan tabel radius proteksi penangkal petir
berdasarkan level tertentu, hal ini tergantung dari struktur bangunan atau
areal yang akan di proteksi. Selain itu posisi head terminal petir yang semakin tinggi juga juga sangat menentukan jarak
perlindungan dari terminal unit penangkal petir
tersebut.

Bentuk Radius Proteksi Penangkal Petir Flash Vectron
Bentuk radius proteksi
penangkal petir Flash Vectron bila di lihat seperti payung atau sangkar
yang melindungi struktur bangunan atau sebuah areal dari sambaran petir
langsung (eksternal
protection). Jadi bila ada sambaran petir
yang mengarah ke bangunan yang telah terpasang penangkal petir
Flash Vectron maka sambaran petir tersebut akan mengenai terminal unit Flash Vectron sebagai
alat penerima sambaran dan akan di salurkan melalui kabel penyalur ke grounding.

Bentuk radius proteksi penangkal petir Flash Vectron bila di lihat
dari atas seperti gambar di samping. Instalasi Penangkal Petir yang telah terpasang ada yang bertujuan untuk melindungi struktur bangunan saja dan ada yang bertujuan untuk melindungi seluruh areal. Maka sebelum dipasang penangkal petir sebaiknya kita mengetahui luas bangunan atau areal yang akan dilindungi. Radius proteksi penangkal petir harus saling beradu atau saling tabrakan antara radius proteksi titik satu dengan titik yang lainnya.
Mengingat letak geografis Indonesia yang di lalui garis
khatulistiwa menyebabkan Indonesia beriklim tropis, akibatnya Indonesia
memiliki hari guruh rata-rata per tahun sangat tinggi. Dengan demikian seluruh
bangunan di Indonesia memiliki resiko lebih besar mengalami
kerusakan akibat terkena sambaran petir. Kerusakan yang
di timbulkan dapat membahayakan peralatan serta manusia yang
berada di dalam bangunan tersebut. Untuk melindungi dan mengurangi dampak
kerusakan akibat sambaran petir
maka harus di pasang sistem pengamanan pada bangunan tersebut. Sistem
pengamanan itu salah satunya berupa sistem penangkal petir atau anti petir beserta kabel penyalur (Down Conduktor) dan
pertanahannya (Grounding System) sesuai standart
yang telah di tentukan.INTENSITAS PETIR (Curah Petir Tahunan) Tingkat Isokeraunik di Indonesia
|
KOTA - PULAU
|
CURAH PETIR
|
I K L
|
TINGKAT
|
|
Alor - Nusa
Tenggara Timur
|
39
|
10.56
|
Rendah
|
|
Amahai -
Maluku
|
109
|
29.95
|
Sedang
|
|
Ambon - Maluku
|
82
|
22.36
|
Rendah
|
|
Bogor - Jawa
|
201
|
55.15
|
Tinggi
|
|
Banyuwangi -
Jawa
|
101
|
27.56
|
Sedang
|
|
Bawean - Jawa
|
141
|
38.68
|
Sedang
|
|
Banda Aceh -
Sumatera
|
55
|
15.12
|
Rendah
|
|
Batam - Batam
|
131
|
35.94
|
Sedang
|
|
Belawan -
Sumatera
|
246
|
67.36
|
Tinggi
|
|
Balikpapan-
Kalimantan
|
227
|
62.10
|
Tinggi
|
|
Banjarmasin -
Kalimantan
|
85
|
23.18
|
Rendah
|
|
Bandanaira -
Kep. Maluku
|
63
|
17.26
|
Rendah
|
|
Bima - Nusa
Tenggara Barat
|
102
|
27.84
|
Sedang
|
|
Bitung -
Sulawesi
|
55
|
15.07
|
Rendah
|
|
Bau-Bau - Sulawesi
|
137
|
37.54
|
Sedang
|
|
Cilacap - Jawa
|
85
|
23.29
|
Rendah
|
|
Citeko - Jawa
|
227
|
62.30
|
Tinggi
|
|
Curug - Jawa
|
20
|
60.22
|
Tinggi
|
|
Denpasar -
Bali
|
61
|
16.71
|
Rendah
|
|
Dabo - Singkep
|
107
|
29.32
|
Sedang
|
|
Dumai -
Sumatera
|
218
|
59.75
|
Tinggi
|
|
Flores - Nusa
Tenggara Timur
|
88
|
24.03
|
Rendah
|
|
Gunung Sitoli
- Sumatera
|
112
|
30.68
|
Sedang
|
|
Gorontalo -
Sulawesi
|
212
|
58.08
|
Tinggi
|
|
Geser - Maluku
|
91
|
25.04
|
Sedang
|
|
Indramayu -
Jawa
|
187
|
51.23
|
Tinggi
|
|
Jakarta - Jawa
|
193
|
52.88
|
Tinggi
|
|
Jatiwangi -
Jawa
|
189
|
51.78
|
Tinggi
|
|
Jambi -
Sumatera
|
76
|
20.74
|
Rendah
|
|
Jaya Pura -
Irian
|
197
|
53.88
|
Tinggi
|
|
Kairatu -
Maluku
|
101
|
27.56
|
Sedang
|
|
Kalianget -
Madura
|
166
|
45.45
|
Sedang
|
|
Kupang - Nusa
Tenggara Timur
|
79
|
21.60
|
Rendah
|
|
Kota Baru -
Kalimantan
|
58
|
15.89
|
Rendah
|
|
Lekunik Baa -
NTT
|
78
|
21.34
|
Rendah
|
|
Lembang - Jawa
|
132
|
36.05
|
Sedang
|
|
Lokseumawe -
Sumatera
|
201
|
55.07
|
Tinggi
|
|
Labuha -
Maluku
|
130
|
35.59
|
Sedang
|
|
Luwuk - Kep.
Maluku
|
110
|
30.25
|
Sedang
|
|
Majene -
Sulawesi
|
139
|
38.19
|
Sedang
|
|
Makasar -
Sulawesi
|
152
|
41.76
|
Sedang
|
|
Manado -
Sulawesi
|
128
|
34.52
|
Sedang
|
|
Manokwari -
Irian Jaya
|
162
|
44.41
|
Sedang
|
|
Masamba -
Sulawesi
|
248
|
67.88
|
Tinggi
|
|
Mataram - Nusa
Tenggara Barat
|
126
|
34.56
|
Sedang
|
|
Maumere -
Irian Jaya
|
87
|
23.87
|
Rendah
|
|
Medan -
Sumatera
|
224
|
61.34
|
Tinggi
|
|
Meulaboh -
Sumatera
|
178
|
48.77
|
Sedang
|
|
Muara taweh -
Kalimantan
|
267
|
73.20
|
Tinggi
|
|
Nanga Pinoh -
Kalimantan
|
112
|
30.82
|
Sedang
|
|
Naha -
Sulawesi
|
72
|
19.62
|
Rendah
|
|
Namlea -
Maluku
|
69
|
18.90
|
Rendah
|
|
Padang Panjang
- Sumatera
|
122
|
33.47
|
Sedang
|
|
Palembang -
Sumatera
|
156
|
42.67
|
Sedang
|
|
Pang Brandan -
Sumatera
|
214
|
58.60
|
Tinggi
|
|
Pangkal Pinang
- Kalimantan
|
118
|
32.33
|
Sedang
|
|
Palu -
Sulawesi
|
182
|
49.73
|
Sedang
|
|
Pangkalan Bun
- Kalimantan
|
237
|
65.04
|
Tinggi
|
|
Paloh -
Kalimantan
|
188
|
51.56
|
Tinggi
|
|
Palangkaraya -
Kalimantan
|
298
|
81.68
|
Tinggi
|
|
Pontianak -
Kalimantan
|
219
|
60.00
|
Tinggi
|
|
Putussibau -
Kalimantan
|
169
|
46.30
|
Sedang
|
|
Poso -
Sulawesi
|
127
|
34.79
|
Sedang
|
|
Riau -
Sumatera
|
217
|
59.33
|
Tinggi
|
|
Semarang -
Jawa
|
148
|
40.63
|
Sedang
|
|
Serang - Jawa
|
112
|
30.01
|
Sedang
|
|
Surabaya -
Jawa
|
159
|
43.56
|
Sedang
|
|
Sumbawa Besar
- NTB
|
119
|
32.61
|
Sedang
|
|
Sibolga -
Sumatera
|
158
|
43.29
|
Tinggi
|
|
Subang - Jawa
|
31
|
8.55
|
Rendah
|
|
Samarinda -
Kalimantan
|
172
|
47.06
|
Sedang
|
|
Susilo Sintang
- Kalimantan
|
144
|
39.45
|
Sedang
|
|
Saumlaki -
Maluku
|
83
|
22.83
|
Rendah
|
|
Sorong - Irian
Jaya
|
147
|
40.27
|
Sedang
|
|
Tanjung Karang
- Sumatera
|
112
|
30.68
|
Sedang
|
|
Tanjung Pandan
- Sumatera
|
46
|
12.6
|
Rendah
|
|
Tanjung Pinang
- Sumatera
|
148
|
40.61
|
Sedang
|
|
Tanjung Selor
- Sumatera
|
88
|
24.2
|
Rendah
|
|
Tarempa -
Sumatera
|
74
|
20.27
|
Rendah
|
|
Tegal - Jawa
|
198
|
54.34
|
Tinggi
|
|
Ternate -
Maluku
|
130
|
35.73
|
Sedang
|
|
Tual - Maluku
|
26
|
7.12
|
Rendah
|
|
Timika - Irian
Jaya
|
149
|
40.9
|
Sedang
|
|
Toli-Toli -
Sulawesi
|
132
|
36.05
|
Sedang
|
|
Tuntu -
Sumatera
|
204
|
55.89
|
Tinggi
|
|
Waingapu -
Nusa Tenggara Timur
|
107
|
29.38
|
Sedang
|
|
Wamena - Irian
Jaya
|
39
|
10.68
|
Rendah
|
IKL : Hari Petir (Guruh)
Tingkat Kerawanan Petir
- Tinggi : IKl > 50%
- Sedang : 25% < IKL < 50%
- Rendah : IKl < 25% Di Indonesia sambaran petir sangat sering terjadi sepanjang tahun, mereka menyambar apa saja, mulai dari pohon, bangunan tinggi hingga orang. Indonesia bisa di bilang surganya petir. Kenapa ? Karena Indonesia mempunyai semua bahan yang diperlukan petir untuk membetuk diri. Wilayah Indonesia yang terdiri dari darat, laut dan udara terbentang luas sepanjang 5.110 kilometer dari Barat hingga ke Timur Khatulistiwa. Garis Meridiannya sendiri membujur dari Utara ke Selatan sepanjang 1.888 km. Luas wilayah darat dan laut Indonesia membuat semua unsur pembentuk petir tersedia dalam jumlah yang melimpah. Seperti udara naik, kelembaban dan partikel bebas atau aerosol. Oleh sebab itu sangat tidak mengherankan jika Indonesia merupakan salah satu tempat di dunia yang memiliki hari sambaran petir tertinggi. Bahkan Indonesia memiliki wilayah favorit sambaran petir, diantaranya : 1. Kota Bogor Bogor identik dengan sebutan kota hujan, karena curah hujan pertahunnya rata-rata 2.500 mm - 4.400 mm. Kota yang dikelilingi Gunung Salak, Pangrago dan Gunung Gede ini memiliki kelembaban cukup tinggi, yakni sekitar 40 %, dengan suhu rata-rata 26 derajat celcius. Konon dalam 365 hari setahun, sambaran petir terjadi di langit Bogor sekitar 322 hari. 2. Kalimantan Tengah Propinsi ini memiliki sambaran petir yang sangat tinggi, hal ini disebabkan awan petir yang terbentuk relatip rendah yakni sekitar 900 kaki saja dari permukaan tanah. Potensi terjadinya petir semakin besar karena tafografi daerah ini datar dan tingkat elevasinya rendah. Stasius Badan Meteorologi dan Geofisika Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya mencatat sambaran petir di daerah ini bisa mencapai 90 ribu kali sehari, baik sambaran dalam awan sendiri (dari awan ke awan, dari awan ke udara) atau dari awan ke tanah. Dalam bulan November 2007 lalu rata-rata tiap hari di wilayah Kalimantan Tengah terjadi 17.385 kali sambaran petir atau setiap menit terjadi sambaran petir sebanyak 12,1 kali. Sambaran petir tertinggi pada bulan itu mencapai 95.855 kali per hari dan terendah 63 kali per hari. Tingginya frekuensi petir ini membuat Kalimantan Tengah di juluki Tanjung Nyaho, dalam bahasa Dayak, Nyaho artinya petir. 3. Depok Bila di Kalimantan Tengah sambaran petir paling banyak, maka di Depok petir menyambar dengan energi paling tinggi di dunia. Arus petir negatif di Depok mencapai kekuatan 379,2 kiloampere, sedang arus positifnya mencapai 441,1 kiloampere. Dengan kekuatan sehebat itu, satu sambaran bisa menghancurkan bangunan yang terbuat dari beton sekalipun. Sambaran petir di Depok terjadi hampir sepanjang tahun, yang tertinggi pada bulan Maret, April dan Mei atau pada musim hujan, sambaran petir agak mereda mulai bulan Pebuari. Data yang didapat dari laboratorium ITB, Jaringan Deteksi Petir Nasional, bahwa Indonesia memiliki hari guruh 200 hari, sementara Brazil 140 hari, Amerika Serikat 100 hari dan Afrika Selatan 60 hari.
Rumus
perbandingan untuk menentukan radius proteksi antara instalasi penangkal petir elektrostatis dengan instalasi penangkal petir
konvensional secara Conprehensived Course - Sistem Proteksi Petir dan Over
Voltage pada jaringan listrik, jaringan data, jaringan telekomunikasi.
.
Berikut ini desain model Perbandingan Metoda Collection
Volume Terminal Early Streamer dengan Terminal Konvensional. Jika melihat tabel radius proteksi petir dan rumus perbandingan radius penangkal petir di atas maka kita dapat mengetahui
daerah mana saja yang mempunyai curah petir yang tinggi sehingga kita dapat segera
mengatasi ancaman bahaya petir
yang selalu membayangi kita. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya dampak
yang kurang baik dari sambaran petir yaitu dengan cara memasang instalasi penangkal petir Flash Vectron yang telah teruji kualitasnya.
Maka
dari itu jika rumah, kantor atau bangunan kita belum terlindung oleh ancaman bahaya sambaran petir, segera hubungi call centre Jaya
Abadi Globalindo 021
45515000, atau isi data di menu penawaran yang ada di website ini.
Penangkal petir Flash
Vectron merupakan penangkal
petir modern yang berbasis kerja E.S.E (Early
Streamer Emission) Sistem ESE bekerja secara aktif dengan cara
mengumpulkan ion dan melepaskan ion dalam jumlah besar ke lapisan udara sebelum
terjadinya sambaran petir. Pelepasan ion ke udara secara otomatis akan membuat jalur
untuk menuntun petir agar selalu memilih ujung Terminal
Petir Flash Vectron ini dari pada areal
sekitarnya. Dengan sistem ini akan meningkatkan areal perlindungan yang lebih
luas dari pada sistem penangkal
petir konvensional.

Disaat ada awan mendung
melintas di atas bangunan yang dilindungi antipetir/penangkal petir
Flash Vectron. Elektroda terpasang di dalam peralatan akan mengumpulkan dan
menyimpan energi dari awan yang bermuatan listrik di dalam kapasitor yang mampu
diisi ulang, setelah cukup besar kemudian dikirim ke unit ION
GENERATOR. Ketika banyak energi petir
di atmosfer maka awan menginduksi unit ION GENERATOR. Informasi ini di olah dalam unit Ion Generator untuk
di manfaatkan sebagai memicu pelepasan energi. Akibat dari pelepasan energi
yang menghentak ini akan menghasilkan lidah api penuntun ke udara (Streamer
Leader) melalui Batang Utama penangkal petir Flash Vectron, lidah api penuntun ini yang kemudian di
sambut oleh petir

Proses terjadinya petir akibat
perpindahan muatan negatif (elektron) menuju ke muatan positif (proton).
Para ilmuwan menduga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada beberapa
tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada
awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah
listrik muatan negatif, di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif,
sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan
positif, pada bagian inilah petir biasa
berlontaran. Petir dapat terjadi antara awan dengan awan, dalam awan itu
sendiri, antara awan dan udara, antara awan dengan tanah (bumi).
1. Sambaran Perintis (Initial
Leader)
Peralihan muatan ke
tanah dimulai dengan sambaran yang menjalar ke dekat dasar daerah bermuatan
negatip dengan sambaran yang menjalar kedekat dasar daerah bermuatan negatip
dalam awan melalui beberapa tahapan. Tiap tahapan akan terlihat sebagai kilatan
petir yang bertambah. hal ini disebabkan oleh udara yang
terionisasi di ujung sambaran. sambaran perintis menuju ke tanah dengan
kecepatan rata-rata 10^8 cm/detik melalui zig-zag. Sambaran ini membawa muatan
negatip sepanjang lintasannya sehingga menciptakan medan magnet listrik dalam
ruang antara ujung sambaran perintis dengan tanah.
2. Sambaran Balik (Return
Stroke)
Pada saat sambaran
perintis mencapai ketinggian tertentu dari permukaan bumi maka dimulailah
sambaran bermuatan positip ke atas untuk menemui ujung sambaran perintis yang
bermuatan negatip. Kilasan cahaya dari sambaran balik ini jauh lebih besar dari
sambaran perintis. Sambaran balik menjalar melalui lintasan sambaran perintis
yang terionisasi dengan kecepatan 3.10^9 cm/detik. Arus dari sambaran balik
inilah yang menjadi arus utama petir
yang berkisar 5 kA sampai 200 kA dengan nilai rata-rata arus puncak 20 kA.
Jika kita memperhatikan
bahaya yang di akibatkan sambaran petir, maka sistem perlindungan petir harus mampu
melindungi struktur bangunan atau fisik maupun melindungi peralatan dari
sambaran langsung dengan di pasangnya penangkal petir eksternal (Eksternal Protection) dan sambaran tidak langsung dengan di pasangnya penangkal petir internal (Internal Protection) atau yang sering di sebur surge arrester serta pembuatan grounding system yang memadai sesuai standart yang telah di tentukan.
sampai saat ini belum ada alat atau system proteksi petir yang dapat
melindungi 100 % dari bahaya sambaran petir, namun usaha
perlindungan mutlak dan wajib sangat di perlukan. Selama lebih dari 60 tahun
pengembangan dan penelitian di laboratorium dan lapangan terus dilakukan,
berdasarkan usaha tersebut suatu rancangan system proteksi petir secara terpadu
telah di kembangan oleh Flash Vectron Lightning
Protection "SEVEN POINT PLAN".
Tujuan dari "SEVEN POINT
PLAN" adalah menyiapkan sebuah perlindungan
efective dan dapat di andalkan terhadap serangan petir, "Seven Point
Plan' tersebut meliputi :
1.
Menangkap Petir
Dengan
cara menyediakan system penerimaan (Air Terminal Unit) yang dapat dengan cepat menyambut sambaran arus petir, dalam hal ini
mampu untuk lebih cepat dari sekelilingnya dan memproteksi secara tepat dengan
memperhitungkan besaran petir. Terminal Petir Flash Vectron mampu memberikan solusi sebagai alat penerima
sambaran petir karena desainnya dirancang untuk digunakan khusus di
daerah tropis.
2.
Menyalurkan Arus Petir
Sambaran petir yang telah
mengenai terminal penangkal petir sebagai alat penerima sambaran akan membawa arus yang
sangat tinggi, maka dari itu harus dengan cepat disalurkan ke bumi (grounding) melalui kabel penyalur sesuai standart sehingga tidak terjadi loncatan listrik
yang dapat membahayakan struktur bangunan atau membahayakan perangkat yang ada
di dalam sebuah bangunan.
3.
Menampung Petir
Dengan
cara membuat grounding system dengan resistansi atau tahanan tanah kurang dari 5 Ohm.
Hal ini agar arus petir dapat sepenuhnya diserap oleh tanah tanpa terjadinya
step potensial. Bahkan dilapangan saat ini umumnya resistansi atau tahanan
tanah untuk instalasi penangkal petir harus dibawah 3 Ohm.
4.
Proteksi Grounding System
Selain
memperhatikan resistansi atau tahanan tanah, material yang digunakan untuk
pembuatan grounding juga harus diperhatikan, jangan sampai mudah korosi atau
karat, terlebih lagi jika didaerah dekat dengan laut. Untuk menghindari
terjadinya loncatan arus petir yang ditimbulkan
adanya beda potensial tegangan maka setiap titik grounding harus dilindungi dengan cara integrasi atau bonding
system.
Proteksi
terhadap jalur dari power muntak diperlukan untuk mencegah terjadinya induksi
yang dapat merusak peralatan listrik dan elektronik.
Melindungi
seluruh jaringan telepon dan signal termasuk pesawat faxsimile dan jaringan data.
Melindungi
seluruh perangkat elektronik seperti CCTV, mesin dll dengan memasang surge
arrester elektronik.
Secara umum kabel penyalur yang dibutuhkan dalam instalasi penangkal
petir adalah kabel yang memiliki luas penghantar 50 mm (minimal),
bila lebih besar kemampuan penghantarnya akan lebih baik. Berbagai macam kabel penyalur yang dapat digunakan untuk menyalurkan arus petir
ke tanah, karakteristik utama adalah steel frame (rawan terhadap
putus/gagal sambungan yang menyebabkan loncatan petir
dan adanya kebocoran induksi di sekeliling arus petir.
A. OUT DOOR INSTALASI
Bila instalasi kabel
penghantar penangkal
petir diletakkan di luar bangunan dan jauh dari
instalasi lain (listrik,data) ataupun jauh dari jangkauan penghuni maka kabel
bisa menggunakan kabel BCC minimal 50 mm (Bare Copper Conductor) dengan
pertimbangan Murah.
B. IN / OUT
DOOR INSTALASI
Kabel NYA sama percis dengan kabel NYY, yang membendakan yaitu kalau kabel NYY memiliki dua isolator atau dua lapisan pembungkus tembaga,
sedangkan NYA satu lapisan pembungkus atau satu isolator
C. INDOOR HIGH
INSTALASI

Dan bila jalur instalasi tidak bisa dihindarkan dari instalasi lain
(listrik, data, kontrol dll) maka kabel jenis HVSC (High Voltage Single
Core) yang harus digunakan karena hanya kabel ini yang mampu menahan
tegangan tembus/induksi (inception voltage) arus petir, misalnya kabel Coaxial dan N2XSY ukuran 2 x 35 mm.
Kabel Instalasi
Untuk Surge Arrester
Kabel NYAF 16 mm biasanya di gunakan dalam pemasangan instalasi internal
protection (Surge
Arrester Listrik), karena selain lentur kabel
ini juga memiliki isolator atau pembungkus tembaga, tidak seperti kabel BC.
Bahkan pemasangannya pun sangat dianjurkan memakai conduite. Dalam hal
pemasangannya harus disambungkan dengan kabel grounding yang biasanya menggunakan kabel BC 50 mm atau dihubungkan
langsung dengan Ground Rod.
Dalam pemasangan instalasi internal protection (Surge
Arrester PABX) biasa menggunakan kabel
telepon biasa, umumnya jenis kabel yang digunakan adalah coaxial yang ukurannya
kecil. Hal ini tentunya disesuaikan dengan penggunaaan kabel instalasi
perangkat PABX nya. Jika telah dipasang kabel tersebut tetap harus dihubungkan
dengan grounding
system agar secara fungsi instalasinya dapat
maksimal.
Material Bantu :
Material
bantu yang berkaitan dengan pemasangan instalasi
penangkal petir dalam pemasangan jalur kabel bertujuan untuk memaksimalkan kualitas instalasi dan
estikanya. banyak sekali kontraktor atau perusahaaan instalatir yang kurang
memperhatikan material bantu tersebut. Padahal material bantu dalam suatu
instalasi penangkal
petir sangat menentukan hasil akhir sebuah
pekerjaan pemasangan instalasi penangkal petir di suatu struktur bangunan atau areal pemasangan.
Material
ini berfungsi untuk menyambungkan antara kabel penyalur penangkal petir dengan kabel grounding system. Biasanya dipasang didalam bak kontrol yang mana bak
kontrol tersebut dibuat untuk mempermudah kita dalam hal perawatan instalasi penangkal petir yang telah terpasang, atau ketika kita akan mengukur
resistansi grounding system tentunya harus di buka dulu titik penyambungannya (Skun Cable) agar kita dapat mendapatkan hasil pengukuran resistansi
grounding yang akurat. Selain itu Skun Kabel juga dipasang antara terminal
penangkal petir dengan kabel penyalur.
Material
ini berfungsi untuk membantu mengurangi dampak induksi yang terjadi pada
instalasi penangkal
petir yang telah terpasang. Biasanya conduite
tersebut menggunakan pipa paralon (PVC) yang ukurannya di sesuaikan dengan
ukuran kabel yang di gunakan sebagai kabel penyalurnya.
Material
ini digunakan untuk menyambung antara kabel grounding dari titik satu dengan titik yang lainnya (Pararel
Grounding). Alat ini terbuat dari tembaga
atau logam sehingga dapat berfungsi sebagai konduktor juga sehingga dapat
meningkatkan kualitas instalasi.
Material
bantu ini berfungsi sebagai alat penyambung antara kabel penyalur dengan grounding dengan menggunakan Copper Rod atau tembaga berbentuk tongkat (stick), sehingga kualitas dari
sambungan instalasi tersebut dapat terjamin kualitasnya.












